UNGARAN - Polres Semarang menjadi saksi bisu digelarnya sebuah forum diskusi mendalam dan studi lapangan krusial oleh para calon pemimpin Polri, yaitu peserta didik Sespimmen Angkatan ke-66. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (26/2/2026) ini bukan sekadar rutinitas pendidikan, melainkan sebuah upaya strategis untuk mengasah kepekaan para perwira terhadap isu-isu vital yang dihadapi bangsa, khususnya kedaulatan pangan dan energi.
Di bawah arahan Brigjen Pol. Juda Nusa Putra, SIK., MM., selaku Widyaiswara Kepolisian Utama Tk. II Sespim (Pengawas Poklat II), rombongan peserta didik disambut hangat oleh Kapolres Semarang AKBP Ratna Quratul Ainy, SIK., M.Si. Momen ini menjadi ajang penting untuk menyerap aspirasi dan memahami tantangan nyata di lapangan.
Dalam amanat Kasespim Lemdiklat Polri Irjen Pol. Daniel Tahi Monang Silitonga, SH., MA., yang dibacakan oleh Brigjen Pol. Juda, ditekankan bahwa studi lingkungan ini adalah instrumen tak tergantikan dalam membentuk kepemimpinan Polri yang adaptif dan senantiasa berlandaskan analisis data.
“Studi lingkungan ini bukan sekadar kegiatan akademik, melainkan sarana melatih kepekaan strategis para perwira dalam membaca dinamika organisasi dan tantangan eksternal. Para Serdik diharapkan mampu melahirkan rekomendasi yang solutif dan implementatif, ” tegas Brigjen Pol. Juda, seolah mengingatkan pentingnya kontribusi nyata para calon pemimpin ini.
Tema yang diangkat, “Peran Polri dalam Mendukung Program Kedaulatan Pangan, Energi dan Ekonomi yang Produktif serta Inklusif, ” terasa sangat relevan, terlebih bagi Kabupaten Semarang yang memiliki denyut nadi sektor pertanian, perdagangan, dan distribusi pangan yang strategis. Para peserta didik, yang terdiri dari 10 Serdik Sespimmen, tak sungkan turun langsung ke lapangan. Mereka melakukan wawancara mendalam dan penelitian dengan berbagai pihak, mulai dari Inspektur Kabupaten Semarang, Kepala Dinas Penanaman Modal dan PTSP, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM, Pimpinan Cabang Bulog Semarang, Kepala Dinas Perhubungan, Asisten Perekonomian Setda, pelaku usaha hortikultura, hingga unsur TNI dari jajaran Kodim 0714/Salatiga. Pengalaman ini pasti memberikan gambaran utuh tentang kompleksitas permasalahan yang ada.
Metodologi yang digunakan pun tak main-main, mencakup Organizational Health Audit (OHA) dan Environmental Scanning (ES). Pendekatan OHA menjadi alat untuk mengukur kesehatan organisasi internal, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan, sementara ES berfungsi memetakan peluang serta potensi ancaman dari lingkungan eksternal. Dengan demikian, setiap rekomendasi yang dihasilkan benar-benar berpijak pada data dan realitas lapangan yang otentik.
Kapolres Semarang AKBP Ratna Quratul Ainy menyambut baik inisiatif ini. Ia mengungkapkan dukungan penuhnya, berharap sinergi antara lembaga pendidikan Polri dan kewilayahan ini dapat membuahkan hasil yang bermanfaat.
“Kami menyambut baik studi lingkungan ini sebagai bentuk sinergi antara lembaga pendidikan Polri dan kewilayahan. Harapannya, hasil kajian para peserta dapat berkontribusi nyata dalam mendukung program kedaulatan pangan, energi, serta penguatan ekonomi produktif di Kabupaten Semarang, ” ujarnya, menggambarkan optimisme akan kolaborasi yang terjalin.
Menurutnya, kolaborasi antara unsur pendidikan Polri, pemerintah daerah, dan stakeholder terkait merupakan kunci utama untuk merumuskan kebijakan keamanan yang selaras dengan agenda pembangunan nasional. Melalui forum diskusi dan studi lingkungan ini, para peserta didik Sespimmen Angkatan 66 diharapkan semakin terasah kemampuannya dalam memahami tugas kewilayahan yang penuh tantangan, sekaligus siap menjadi pemimpin Polri yang profesional, analitis, dan responsif terhadap dinamika masa depan.

Updates.