Semarang — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Semarang sukses menggelar kegiatan Fashion Show Batik Nusantara bertajuk “Benang Cinta Ibu dari Balik Tangan yang Menguatkan” pada Senin (22/12/2025).
Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Ibu Tahun 2025 sekaligus menjadi ajang apresiasi atas kreativitas dan karya Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).

Acara yang berlangsung khidmat dan penuh makna ini dihadiri oleh berbagai tamu undangan, di antaranya Ketua TP PKK Provinsi Jawa Tengah, Anggota Komisi VII DPR RI, Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Kakanwil Ditjenpas Jawa Tengah serta para mitra dan pendukung kegiatan.

Rangkaian acara diawali dengan pembukaan, menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, pembacaan doa, hingga penampilan Tari Kaputren oleh Warga Binaan Lapas Perempuan Semarang yang memukau para tamu undangan.

Puncak acara ditandai dengan pelaksanaan fashion show yang terbagi dalam tiga segmen bertema Keterpurukan, Kebangkitan, dan Harapan, menampilkan rancangan para desainer nasional dari Indonesia Fashion Chamber (IFC) yang berkolaborasi dengan Lapas Perempuan Semarang.
Fashion show ini tidak hanya menghadirkan busana bernilai estetika tinggi, tetapi juga sarat akan pesan perjuangan, ketangguhan, dan harapan perempuan dalam menghadapi kehidupan.
Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi, dalam sambutannya menegaskan bahwa tema “Benang Cinta Ibu dari Balik Tangan yang Menguatkan” mencerminkan arah pembinaan yang dijalankan Ditjenpas, yakni peningkatan kualitas keterampilan dan kesiapan warga binaan untuk kembali ke masyarakat.
Ia menambahkan bahwa pengembangan batik, koperasi, dan UMKM menjadi bagian dari strategi pendayagunaan warga binaan sekaligus penguatan ekonomi lokal.
“Tema ini menegaskan arah pembinaan yang kami jalankan, yaitu meningkatkan kualitas keterampilan dan kesiapan warga binaan agar mampu kembali dan berdaya di tengah masyarakat melalui penguatan batik, koperasi, dan UMKM, ” tegas Mashudi.
Selain itu, kegiatan dilengkapi dengan Batik Parade hasil karya Warga Binaan, yang menampilkan lembaran kain batik sebagai simbol ekspresi, pembinaan, dan kemandirian. Acara juga dirangkaikan dengan launching serta lelang masterpiece batik yaitu Malini Padma. Lelang berhasil terjual dan seluruh hasilnya akan disumbangkan sebagai bantuan sosial untuk Sumatera.
Melalui kegiatan ini, Lapas Perempuan Semarang menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pembinaan yang humanis, produktif, dan berkelanjutan. Fashion show batik nusantara ini diharapkan mampu mengubah stigma, membuka ruang kolaborasi, serta menumbuhkan optimisme bahwa karya dari balik tembok pemasyarakatan mampu memberi makna dan inspirasi bagi masyarakat luas.
(Humas Lapas Perempuan Semarang)
